Program Kerja Bidang SOSAG, Pramuka MA Sunniyyah Selo Mengadakan Ziarah Rutin ke Makam Ki Ageng Tarub.

GROBOGAN, Makam Ki Ageng Tarub menjadi salah satu tempat yang banyak pengunjung berziarah. 

Lokasi makamnya berada di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. 

Tepatnya, dari Perempatan Ngantru, Tawangharjo, belok ke arah utara. Jaraknya sekitar 2 km dari Perempatan Ngantru.


Pembacaan tahlil dipimpin oleh bidang Sosial Agama.



Dewan Ambalan Pramuka MA Sunniyyah Selo kembali mengadakan ziarah rutin makam wali lokal dalam rangka menjalankan program kerja bidang Sosial Agama (Sosag), Ahad (12/3). Sebagaimana bulan sebelumnya ziarah dilakukan di makam kyai Ageng Selo. Pada bulan Maret 2023 ini ziarah dilakukan di makam Kyai Ageng Tarub. Begitu juga dengan bulan-bulan berikutnya ziarah dilakukan di lokasi yang berbeda-beda.


Kegiatan ini dipimpin oleh bidang Sosial Agama dan diikuti oleh Dewan Ambalan Pramuka MA Sunniyyah Selo masa bakti 2022/2023.


Foto Dewan Ambalan Pramuka MA Sunniyyah Selo masa bakti 2022/2023 pada saat berziarah di makam Kyai Ageng Tarub.



Menurut Juru Kunci Makam Ki Ageng Tarub, Kanjeng Raden Arya Tumenggung (KRAT) Hastono Adinagoro atau Priyana mengatakan, Ki Ageng Tarub merupakan keturunan utusan dari Arab, Syech Jumadil Kubro.

Diceritakan, Syech Jumadil Kubro datang ke tanah Jawa sekitar 1300 M. Syech Jumadil Kubro ditugasi menyebarkan agama Islam di Jawa yang saat itu mayoritas masih beragama Budha.

Pendekatan yang dilakukan utusan dari Arab itu yakni dengan bertapa, sama seperti penduduk Jawa ketika itu. Namun, cara bertapanya berbeda, yakni memanjat pohon kemudian menggelantungkan badannya ke bawah seperti kalong. Cara bertapa yang kemudian terkenal dengan tapa ngalong.

Suatu hari, di tengah pertapannya, Syech Jumadil Kubra bertemu dengan Dewi Retno Roso Wulan, adik Sunan Kalijaga. 

Dewi Retno dikisahkan diperintah ayahandanya, yakni Bupati Tuban Adipati Wilotikto untuk bertapa selama tujuh tahun di hutan.

“Itu syarat yang diberikan ayahandanya untuk bertemu Sunan Kalijaga. Di hutan itu hanya boleh makan dedaunan dan tidak boleh pulang,” kata KRT Hastono.

Dari pertemuan itu, seiring berjalannya waktu, keduanya pun menikah. Dari pernikahannya, lahirnya laki-laki yang kemudian diberi nama Joko Tarub atau Ki Ageng Tarub.

Saat masih bayi, Joko Tarub diasuh Dewi Kasihan. Saat beranjak dewasa, Joko Tarub menikahi Dewi Nawang Wulan, bidadari yang selendangnya tak sengaja terbawa olehnya.

Dari pernikahannya dengan Dewi Nawang Wulan, lahirlah Dewi Nawangsih. Setelah sang putri beranjak dewasa, Dewi Nawangsih menikah dengan putra Prabu Brawijaya V, Bondan Kejawen.

Nah, penikahan antara Dewi Nawangsih dengan Bondan Kejawan inilah yang kemudian lahir cikal bakal raja-raja di Tanah Jawa.

Pernikahan Bondan Kejawen dan Dewi Nawangsih, lahir Ki Ageng Getas Pendowo. Setelah dewasa dan menikah Ki Ageng Getas Pendowo pun dikaruniai anak yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Keturunan Ki Ageng Selo lah yang kemudian dikenal menjadi para raja di pulau Jawa.

“Jadi Ki Ageng Tarub itu punjernya tanah Jawa. Semasa hidupnya memperjuangkan agama Islam di tanah Jawa. Ki Ageng Tarub itu dikaruniai karomah yang luar biasa. Biar pun keponakan Sunan Kalijaga, tapi tidak pernah membawa senjata. Istilahnya nyepuhi,” terang juru kunci.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGIATAN DIANPINSAT 2025

PCT (Penerimaan Calon Tegak) Tahun 2026

Pelepasan Pramuka MA Sunniyyah Selo Menuju Kemah Kemanusiaan & Perdamaian 2025